Tata Bahasa bagi Penyair

Oleh Michael Ryan

Sekitar seribu tahun lalu, bahasa Inggris mulai kehilangan sebagian besar infleksinya—sufiks yang menunjukkan gender, jumlah, dan kata kerja, tense untuk kata kerja, dan kata ganti orang dan jumlah subyek kata kerja. Tanpa sistem infleksi untuk tata bahasanya, bahasa Inggris berangsur-angsur menerapkan suatu tertib-kata yang tetap untuk membedakan subyek dari obyek dan hubungan-hubungan antarfrase: Subyek-Verb (kata kerja)-Obyek.

Pengaruhnya terhadap pewicara bahasa Inggris sangat besar. S-V-O bagi kita menjadi horison harapan pada sebuah kalimat setiap kali seseorang mendengar atau membaca dalam bahasa Inggris, dan menghubungkan pemikiran kita setiap kali kita berbicara atau menulis. Setiap kalimat dalam bahasa Inggris berhadapan dengan garis S-V-O ini: menaatinya, melawannya, bermain-main dengannya atau bermusuhan dengannya. Setiap kalimat dalam bahasa Inggris adalah sebuah novel misteri yang telah kita ketahui plotnya.

Lazimnya, suspens dalam kalimat itu bukan datang dari siapa yang melakukan sesuatu, melainkan dari apa yang mereka lakukan terhadap siapa, walaupun kita pasti ingin tahu secara langsung siapa yang melakukannya. Jika subyeknya tertunda oleh klausa keterangan, kita menunggunya, kadang-kadang dengan tidak sabar, dan kita menginginkan agar subyek itulah karakter utamanya, kecuali bila kita telah mengetahui dari konteks bahwa tidak demikian halnya.

Kemudian kita ingin Verb (kata kerja)-nya langsung menyusul setelah subyek. Kita ingin tahu apa yang dilakukan oleh subyek. Dan kita ingin agar tindakan-tindakan itu spesifik, bahkan bila pun tindakan-tindakan itu berupa tindakan yang konseptual atau metaforis. Bila kata kerjanya transitif (memerlukan obyek penderita—penerjemah), kita juga ingin obyek (penderita) itu menyusulnya dengan segera. Kita sangat ingin mengerti, memelajari, mengetahui. Kita ingin susunan S-V-O yang tetap atau terpenuhi.

Keinginan kita yang begitu kuat akan hal itu memungkinkan munculnya segala macam suspensi dan elaborasi dan penyesuaian dari jenis yang berlawanan: dari James dan Faulkner di satu kutub dan Hemingway dan Carver di kutub yang lain (gaya individual pengarang—penerjemah).
Kita juga bisa menggambarkan kalimat-kalimat dalam puisi dalam rentang stilistik yang sama, menurut pola bagaimana kalimat-kalimat itu memenuhi-melawan-bermain bersama-atau menjadi musuh S-V-O kita. Puisi, sebagaimana prosa, tersusun dari kalimat-kalimat, dan harapan akan kalimat (oleh pembaca) dan penyiasatan atas kalimat (oleh penulis). Namun, puisi juga tersusun oleh baris-baris yang memunculkan pengalaman kita akan kalimat, dengan menekankan bunyi kata-kata, frase, dan jeda-jeda yang menyusun kalimat tetapi tidak kita sadari hingga bunyi-bunyi itu diorganisasi dan diorkestrasi sebegitu rupa.

Instrumen utama untuk orkestrasi ini adalah baris-baris, dan baris bisa juga dirangkai menjadi stanza, yang lebih jauh lagi mengedepankan baris-baris dengan menekankan organisasi yang independen dari kalimat. Perbedaan antara baris yang bermetrum dan tidak bermetrum (dalam puisi Indonesia, metrum tidak ada-penerjemah), mulai dari bentuk stanza yang paling ketat hingga sajak yang paling bebas, tidak lebih daripada derajat penekanan baris dalam kaitannya dengan kalimat, dan dengan demikian berarti juga kadar di mana perhatian kita terhadap kalimat itu terpenuhi.

Namun demikian, kalimat tetap yang paling utama. Cara membaca puisi adalah dengan membaca kalimat (bukan baris)—dan Anda memecah kalimat ketika Anda membacanya, dari frase ke frase, berjudi tentang hubungan antarfrase, membangun suatu Lego yang multidimensional, membuat potongan yang lebih besar dari potongan-potongan kecil yang diletakkan dengan sedemikian rupa. Kita melakukan hal ini dalam waktu nanosekon. Kita tidak hanya mengerti tata bahasa secara otomatis, tetapi kita melakukannya dengan kecepatan cahaya, mengintegrasikan semantik, tata bahasa, dan leksikon secara terus menerus dan interaktif.

Ketika kita memasuki Dunia Tata Bahasa, kita memasuki ruang angkasa dengan kecepatan warp (seperti dalam film Star Trek—penerjemah), kecepatan otak, menembaki dan menyalakan neouron dengan cara yang masih berada di luar pemahaman linguistik atau neurobiologi. Kita menerjemahkan potongan-potongan bunyi dan jeda-jeda berskala nanosekon menjadi kata-kata, dan kelompok kata menjadi frase. Kita berjudi tentang makna setiap frase, dengan menuruti bukan hanya hubungan-hubungan gramatikal tetapi juga konteks yang diciptakan oleh frase-frase itu, dan konteks dari pengalaman individual kita sendiri (baik yang unik maupun idiosinkratis), yang berubah ketika kita membaca.

Kita menafsirkan, dan menafsirkan ulang bila mana perlu, dan menunggu untuk memahami. Dan kita menyediakan semacam hubungan ketika harus menyediakannya—di antara makna-makna konseptual, konotatif, dan metaforis yang berganda dan beragam yang dipunyai setiap kata secara individual dan dalam hubungannya dengan kata-kata lain. Kita menyediakan dalam pikiran kita organisme awal mula (protean organism) bahasa, dengan kategori-kategorinya yang tidak terpilah dengan jelas, perbatasan yang kabur, aturan-aturan yang tidak konsisten, dan idiom-idiom yang ganjil.

Kebanyakan orang melakukan ini sebelum usia dua tahun. Inilah yang menyebabkan mengapa kalimat puisi, dan bukannya baris, yang menjadi fokus utama perhatian kita: fungsi bahasa adalah transmisi makna, dan kita berhadapan dengan kalimat sebagai instrumen-yang-memberi-hidup (life giving instrument) pada makna sejak masa bayi, jauh sebelum kita mulai membaca puisi. Namun, bahasa juga merupakan suatu sistem di mana segalanya bertalian dengan segala yang lain—tout se tient, kata Saussure—yang menjelaskan mengapa orkestrasi kalimat melalui baris bisa menghasilkan sejenis makna musikal yang unik yang meluaskan makna kalimat ketika terungkap.

Michael Ryan adalah penyair Amerika Serikat. Esai ini diterbitkan pertama kali dalam Three Penny Review.

Tidak ada komentar: